Membangun Jati Diri Siswa
Saya berpendapat bahwa, di samping pemilikan yang telah ada pada pribadi
seseorang, maka tumbuhnya jati diri dalam diri seseorang tidak terjadi secara
spontan. Kecuali orang itu menjumpai kejadian yang sangat mengesankan dalam sejarah
kehidupannya.
Saya melihat jati diri yang dapat ditumbuhkan pada umumnya terjadi melalui
sosialisasi lingkungan melalui proses interaksi stimulis respons yang terjadi
secara serial. Itu berarti dari lingkungan anak juga dapat terbangun jati
dirinya. Lingkungan yang kondusif untuk membangun jati diri anak, menurut saya
dapat dibedakan menjadi dua hal, yakni: lingkungan alam yang telah tersedia di
lingkungan kita dan lingkungan artifi cial atau lingkungan yang diciptakan.
belum tersedia secara alami di lingkungan kita. Di pihak ini termasuk peran
dari kegiatan Bimbingan Konseling (BK). Lantas bagaimana sesungguhnya
karakteristik orang yang memiliki jati diri? Seseorang yang memiliki jati diri
memiliki keunikan, ada yang mengatakan orang itu memiliki ‘aku’, diantaranya
adalah dia biasanya memiliki kepribadian. Dia memiliki sikap tertentu yang
jelas. Dia memiliki tindakan jelas, dan biasanya dia pun memiliki pendirian
yang jelas.
Saya rasa, dengan adanya pemilikan sifat unik itu, maka seorang yang
memiliki jati diri bukan orang yang akunya besar. Karena, menurut saya, orang
yang akunya besar cenderung memiliki sifat egoistis. Nah, bagi orang yang
egoistis, maka segala ukuran normatifnya dalam menilai sesuatu selalu diukur
dari aspek subjektivitas dirinya. Saya kira, orang yang memiliki jati diri
dapat juga dikatakan orang itu memiliki aku, tetapi aku bukan berarti yang
negatif.
Maksud saya, ia dapat membaca dirinya, ia pun kenal terhadap dirinya. Siapa
dirinya, bagaimana dirinya, dapat diketahui oleh orang yang memiliki jati diri
konteksnya dalam kebersamaan orang lain. Dalam peran ini aku diposisikan
sebagai jati diri. Lantas, apa dampak perilaku orang yang memiliki jati diri?
Dampak seseorang yang memiliki jati diri, maka orang itu tidak mudah terkena pengaruh
luar.
Ia begitu resisten terhadap lingkungan, meskipun tidak harus berarti
memiliki sikap skeptis. Selain itu, saya juga melihat, biasanya objektivitas
pribadinya menjadi lebih jelas. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki jati
diri masih memiliki fleksibilitas dalam menjalankan kehidupannya, baik sebagai
pribadi maupun dalam kehidupan bersama. Jati diri, saya rasa, tidak berarti
rigid atau kaku.
Orang yang memiliki jati diri sangat beruntung karena ia mampu untuk
mngenal akan kekurangan dan kelebihan dirinya, dengan demikian ia dapat
mengendalikan dirinya untuk berhasil. Kira-kira peran BK dalam membangun jati
diri gimana? Kalau menurut pendapat saya, peran BK dalam membangun jati diri
terutama dalam mempengaruhi lingkungan. Dan, penciptaan lingkungan itu biasanya
melalui dua cara, yaitu Pertama, penciptaan kondisi.
Kedua, melalui penyadaran. Bila dengan cara melalui penciptaan kondisi
berarti untuk menumbuhkan jati diri membutuhkan sosialisasi. Orang itu
diadaptasikan kepada situasi yang kondusif. Bila menggunakan pendekatan
penyadaran, maka membutuhkan pemikiran dan penghayatan, membutuhkan contoh, dan
membutuhkan proses adopsi. Dan, seberapa besar pengaruh lingkungan
kontribusinya terhadap tumbuhnya jati diri seseorang, itu tergantung kepada
modal dasar jati diri yang dimiliki orang itu.
Saya rasa, Bimbingan Konseling (BK) yang pada prinsipnya secara operasional
melakukan pendampingan terhadap kliennya, proses pemikiran dan penghayatan
dapat dilakukan melalui contoh, diskusi, analisis situasi, melalui cerita
komparatif, dan cara-cara lainnya. Memang, kemudian pada akhirnya timbul
pertanyaan, bagaimana guru BK menyikapi masalah ini? Saya kira, guru Bimbingan
Konseling (BK) tidak benar menghadapi masalah siswa dipecahkan secara sama
rata.
Guru, menurut saya, seharusnya memerinci spesifi kasi setiap permasalahan
siswa, sehingga ditemukan profi l dari masalahnya, dan akhirnya menentukan
metodologi untuk pemecahannya, secara langsung atau diperlukan langkah tahapan.
Dia harus memilih keunikan masalah, dan berikutnya menetapkan metodologi untuk
memecahkannya yang tepat. Dari segala macam pendekatan pemecahan masalah
manusia yang dapat dilakukan, model pendampingan merupakan cara pemecahan
masalah yang (1) manusiawi, (2) partisipatif, (3) menyenangkan siswa, dan (4)
dapat dijamin hasilnya.
Oleh karena itu model pendampingan yang sekarang ini telah digunakan orang
untuk berbagai cara penyuluhan, bimbingan, dan lain-lain dapat digunakan
sebagai cara yang terpilih dan memiliki keunggulan. Melalui pendampingan kita
dapat mengenal klien lebih mendalam dan komprehensif. Saya yakin, bahwa dengan
melalui pendampingan kita pun juga dapat menjalin dengan klien dengan lebih
interaktif dan komunikatif.
Sehingga, tidak mustahil kalau kemudian terjadi keakraban yang dinamis antar
klien dengan pembimbing. Segala persoalan klien dapat terdeteksi dan dapat
dipecahkan dengan tuntas dan memuaskan. Dalam konteks inilah, saya kira jelas
bahwa dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: Apakah memungkinkan BK
dapat membangun jati diri siswa, tergantung kepada penciptaan lingkungan yang
kondusif. Pada prinsipnya setiap orang itu memiliki jati dirinya yang unik.
Dan, ternyata lingkungan memungkinkan dapat membangun
jati diri seseorang apabila kepada orang itu dihadapkan kepada: Pertama,
kejadian yang mengesankan. Kedua, ditemukan kejadian yang alamiah, dan ketiga
adalah dihadapkan kepada lingkungan artifi sial yang cocok.













